Golongan Darah Jelaskan Mengapa Raja Henry VIII Menjadi Monster



Ketidakcocokan golongan darah antara Raja Henry VIII dan isteri-isterinya kemungkinan telah mendorong kesengsaraan Raja Tudor itu sendiri, dan kondisi genetika yang dikaitkan dengan golongan darah itu juga dapat menjelaskan transformasi kehidupan dramatik Henry menjadi raja lalim yang terganggu secara mental dan fisik yang menghukum dua dari isteri-isterinya.



Riset yang dilakukan bioarkeologi, Catrina Banks Whitley, yang merupakan seorang mahasiswa pasca sarjana di Universitas Southern Methodis dan antropolog Kyra Kramer memperlihatkan bahwa sejumlah keguguran yang dialami isteri-isteri Henry dapat dijelaskan dengan apakah darah sang raja membawa antigen Kell.

Perempuan Kell-negatif yang mempunyai kehamilan kembar dengan lelaki Kell-positif dapat menghasilkan anak Kell-positif yang sehat pada kehamilan pertama. Tetapi antibodi yang dihasilkan si perempuan selama kehamilan pertama itu akan menyilang plasenta dan menyerang bayi Kel-positif pada kehamilan berikutnya.

Seperti diterbitkan dalam The Historical Journal (Cambridge University Press), pola ketidakselarasan golongan darah Kell bersifat konsisten dengan kehamilan dua isteri pertama Henry, Katherine dari Aragon dan Anne Boleyn. Jika Henry juga menderita sindrom McLeod, sebuah gangguan genetika yang khusus dengan golongan darah Kell, akhinya akan memberikan penjelasan pergeseran diri sang raja baik fisik maupun kepribadian dari individu yang kuat, atletis, baik hati pada umur 40 awal menjadi sosok paranoid yang mengerikan, sukar bergerak oleh berat yang sangat dan sakit-sakit kaki.

“Inilah penegasan kami dalam mengidentifikasi kondisi medis penyebab yang mendasari permasalahan reproduksi Henry dan kemunduran psikologis,” tulis Whitley dan Kramer, seperti dikutip Dapunta.com dari Archnews.com, Rabu (09/03/2011).

Henry menikahi enam perempuan, dua dari isterinya beliau dieksekusi, dan memisahkan hubungan Inggris dengan Gereja Katolik – semua dilakukannya untuk mencari penyatuan perkawinan yang menghasilkan seorang keturunan lelaki. Para sejarawan telah lama memperdebatkan teori sakit dan luka yang mungkin menjelaskan kemunduran fisik dan tingkah laku tirani, mengerikan yang mulai tampak setelah ulang tahunnya yang keempatpuluh. Memang sedikit perhatian diberikan pada kehamilan yang gagal isteri-isterinya dalam satu usia pemeliharaan medis primitif dan makanan yang buruk sera gizi, dan penulis Whitley dan Kramer berargumen melawan teori yang telah lama bertahan bahwa sipilis menjadi satu faktor.

Bapak Kell-positif sering adalah penyebab dibalik ketidakmampuan pasangannya untuk mengandung bayi sehat setelah kehamilan Kell-negatif pertama, seperti keadaan yang dialami pada perempuan yang mempunyai kehamilan kembar. Mayoritas individu pada kelompok darah Kell adalah Kell-negatif, sehingga jarang bapak Kell-positif yang menciptakan problem reproduksi.

Dukungan selanjutnya pada teori Kell adalah uraian bahwa Henry pada usia menengah sampai akhir kehidupannya menunjukkan ia menderita beberapa simton kognitif dan fisik yang dihubungkan dengan sindrom McLeod –satu kondisi medis yang dapat terjadi pada sejumlah kelompok darah Kell positif.

Pada usia paruh baya, Sang raja menderita borok kaki kronis, mengisi spekulasi sejarah yang panjang bahwa baginda menderita diabetes tipe II. Borok tersebut dapat juga disebabkan oleh osteomyelitis, infeksi tulang kronis yang membuat berjalan benar-benar menyakitkan. Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, gerak Henry mengalami penurunan hingga pada satu titik beliau dibawa dengan kursi bergalah pemanggul. Ketidakdapatgerak tetap diketahui sebagai kasus sindrom McLeod ketika sang raja mulai merasakan kelemahan pada kaki kanannya ketika berusia 37 tahun , dan mencapai puncaknya pada usia 47 tahun, begitu catatan dilaporkan,

Whitley dan Kramer berpendapat bahwa raja Tudor tersebut menderita kondisi medis seperti ini sebagai akibat kombinasi sindrom McLeod yang diperburuk oleh obesitasnya. Catatan-catatan tidak menunjukkan apakah Henry menampilkan tanda-tanda fisik lain sindrom McLeod, seperti kontraksi otot yang terus menerus (tic), kram atau kejang-kejang, atau peningkatan abnormal dalam aktivitas otot seperti kejang atau hiperaktivitas. Tetapi perubahan dramatis pada kepribadiannya memberikan bukti kuat bahwa Henry menderita sindrom Mcleod, para penulis menegaskan. Ketidakstabilan emosi dan mentalnya meningkat dalam duabelas tahun sebelum kematian sampai pada satu tingkatan yang dilabeli sebagai psikotik tingkah laku..

Sindrom McLeod mirip penyakit Huntington, yang mempengaruhi koordinasi otot dan menyebabkan gangguan kognitif. Simton McLeod biasanya mulai berkembang ketika individu berumur antara 30 dan 40 tahun, sering menyakibatkan kerusakan pada otot jantung, penyakit otot, abnormalitas psikiatris dan kerusakan syaraf motor. Henry VIII mengalami banyak, jika tidak semuanya, simton ini, begitu yang ditemukan penulis.

Mortalitas janin, bukan infertilitas adalah pewarisan Kell
Henry hampir berumur 18 ketika menikahi Catherine dari Aragon yang berusia 23 tahun. Anak perempuan pertama mereka lahir mati. Anak kedua, seorang anak lelaki, hanya berusia 52 hari. Empat kehamilan dikonfirmasi selama perkawinan tetapi tiga dari keturunan mati lahir atau mati setelah kelahiran. Satu-satunya anak mereka yang bertahan hidup adalah Mary, yang akhirnya dinobatkan sebagai Monarki keempat Dinasti Tudor.

Jumlah tepat keguguran yang dialami oleh pasangan reproduksi Henry sulit ditentukan, terutama ketika berbagai gundik dimasukkan, tetapi pasangan-pasangan sang raja setidak-tidaknya 11 dan mungkin 13 atau lebih mengalami kehamilan. Hanya empat dari sebelas yang diketahui bertahan sampai kanak-kanak. Whitley dan Kramer menyebut tingkat aborsi terlambat, spontan yang tinggi , mati lahir, atau kematian neonatal diderita oleh dua permaisuri pertana Henry ’pola reproduktif tak-khas” karena, walaupun dalam umur mortalitas anak yang tinggi , sebagian besar perempuan tersebut hamil, dan anak-anak mereka biasanya hidup cukup panjang untuk dibaptis.

Penulis menyatakan bahwa jika seorang bapak Kell-positif membuahi ibu Kell-negatif, kehamilan yang dihasilkan mempunyai peluang 50-50 mempunyai Kell-positif. Kehamilan pertama secara khas terbawa sampai masa kandungan dan melahirkan bayi yang sehat, walaupun bayi adalah Kell-positif dan ibu adalah Kell-negatif. Tetapi kehamilan Kell-positif berikutnya berisiko karena antibodi ibu akan menyerang Kelly-positif sebagai badan asing. Bayi apapun yang dilahirkan adalah Kell negatif dan tidak akan diserang oleh antibodi ibu dan akan terbawa sampai masa kelahiran dan sehat

“Walaupun faktanya anak pertama lahir dari Henry dan Katherine dari Aragon yang tidak akan bertahan adalah agak tidak khas, ada kemungkin bahwa beberapa kasus sensitisasi Kell mempengaruhi kehamilan pertama juga.”

Bertahannya Mary, anak dari kehamilan kelima, Katherine Aragon, sesuai skenario Kell jika Mary mewarisi gen Kell resesif dari Henry, yang mengakibatkan bayi yang sehat. Kehamilan Anne Boleyn adalah contoh textbook tentang alloimunisasi Kell dengan anak pertama sehat dan berikutnya keguguran usia-lanjut. Jane seymour hanya mempunyai satu anak sebelum kematiannya, tetapi bahwa anak pertama yang lahir sehat juga konsisten dengan bapaknya yang Kell positif.

Beberapa keluarga dari pihak ibu yang lelaki dari keluarga Henry menuruti pola reproduksi Kell positif.

“Kami telah melacak tranmisi gen Kell positif yang mungkin dari nenek buyut Jacquetta dari Luxembourg,” laporan mengungkapkan. “Pola kegagalan reproduksi keturunan lelaki Jacquetta, sementara yang perempuan umumnya berhasil bereproduksi , menyatakan adanya fenotif Kell genetik dalam keluarga tersebut.” [*]

jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KOMPAS.WEB.ID Powered by Blogger